All about Hindu, Catur Veda, Rigveda, Yajurveda, Samaveda, Atharvaveda, Darsana, Bhagawad Gita, Mahabharata, Ramayana, Teologi, Purana, Itihasa, Resi, Doa-doa, Wayang, Tempat Suci, Tirthayatra, termasuk Lontar
Tampilkan postingan dengan label Prasasti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prasasti. Tampilkan semua postingan
Minggu, 04 Mei 2014
Prasasti Dieng
Karena info dari Ida Bagus Komang Sudarma ini bagus, maka
saya menguploadnya tanpa editan.
Semoga semua
mendapat pengetahuan yang bermanfaat. Inilah tulisannya.
Alih-aksara Prasasti dari Dieng
Prasasti di bawah ini adalah bagian belakang dari sebuah prasasti yang ditemukan di Dieng dan difoto pada tahun 1864 oleh Isidore van Kingsbergen. Bagian belakang prasasti ini hanya berisikan empat baris aksara Kawi awal. Foto bagian depan prasasti yang ada di perpustakaan Leiden tidak bisa dialih-aksarakan karena ligaturnya tak tampak jelas.
(Perhatian: redaksi alih-aksara di bawah ini masih belum reliabel)
![]() |
| Prasasti Dieng |
Alih-aksara:
- hana sīma i śrī maṅgala watag hiraṁnā sawaḥ lamwi thata hana
- sīma i wuka watu watakwan hilā sawaḥ tampaḥ 3 hana sīma
- i panuliṅan watak-piwahan sawaḥ tampaḥ 1
- wlaḥ 1
Prasasti Talang Tuo
Karena info dari Ida Bagus Komang Sudarma ini bagus, maka
saya menguploadnya tanpa editan.
Semoga semua
mendapat pengetahuan yang bermanfaat. Inilah tulisannya.
Prasasti Talang Tuo
Prasasti
Talang Tuo / Tuwo ditemukan oleh Louis Constant Westenenk (residen
Palembang kontemporer) pada tanggal 17 November 1920 di kaki Bukit
Seguntang, dan dikenal sebagai peninggalan Kerajaan Sriwijaya.
Keadaan
fisiknya masih baik dengan bidang datar yang ditulisi berukuran 50cm ×
80 cm. Prasasti ini berangka tahun 606 Saka (23 Maret 684 Masehi),
ditulis dalam aksara Pallawa, berbahasa Melayu Kuna, dan terdiri dari 14
baris. Sarjana pertama yang berhasil membaca dan mengalihaksarakan
prasasti tersebut adalah van Ronkel dan Bosch, yang dimuat dalam Acta
Orientalia. Sejak tahun 1920 prasasti tersebut disimpan di Museum
Nasional Indonesia, Jakarta, dengan nomor D.145.
Prasasti Wayuku
Karena info dari Ida Bagus Komang Sudarma ini bagus, maka saya menguploadnya tanpa editan.
Semoga semua mendapat pengetahuan
yang bermanfaat. Inilah tulisannya.
Revisi Prasasti Wayuku 779 Saka
Prasasti Pereng
Alih-aksara Prasasti Pereng 785 Saka
Prasasti ini saya dapat dari blognya Pian Anang, dan data asli dan selengkapnya ada di Perpustakaan Universitas Leiden.
Sabtu, 08 Februari 2014
Prasasti Sine
Semoga semua mendapat pengetahuan yang bermanfaat. Inilah
tulisannya.
Prasasti Sine 1381 Saka
Prasasti Sineh
adalah prasasti batu yang ditemukan di Sineh, sebelah timur laut Gunung
Lawu. Prasasti ini berisikan peringatan akan makam dari seorang ratu.
Artikel tentang prasasti ini telah dimuat dalam Tijd. Bat. Gen. volume
II, tahun 1854.
Aksara pada prasasti ini mirip dengan aksara yang ada pada candi Sukuh, yang bentuknya bold. Selain itu, ada fonem aksara yang sudah melenceng dari aksara aslinya yaitu Sansekerta (terukir sakakala, seharusnya śakakāla).
Gambar 1. Faksimile Prasasti Sineh
Minggu, 19 Januari 2014
Prasasti Ligor (775 AD)
Prasasti Ligor
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Prasasti Ligor merupakan prasasti yang terdapat di Ligor (sekarang Nakhon Si Thammarat, selatan Thailand). Prasasti ini merupakan pahatan ditulis pada dua sisi, bagian pertama disebut prasasti Ligor A atau dikenal juga dengan nama manuskrip Viang Sa sedangkan di bagian lainnya disebut dengan prasasti Ligor B.
Penafsiran teks
Dari manuskrip Ligor A ini berisikan berita tentang raja Sriwijaya, raja dari segala raja yang ada di dunia, yang mendirikanTrisamaya caitya untuk Kajara. Sedangkan dari manuskrip Ligor B berangka tahun 775, berisikan berita tentang namaVisnu yang bergelar Sri Maharaja, dari keluarga Śailendravamśa serta dijuluki dengan Śesavvārimadavimathana (pembunuh musuh-musuh yang sombong tidak bersisa).
Prasasti Anjuk Ladang (937 atau 935 Masehi)
Prasasti Anjuk Ladang
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Prasasti Anjuk Ladang adalah piagam batu berangka tahun 859 (versi L.C. Damais) atau 857 (versi Brandes) Saka (sama dengan 937 atau 935 Masehi) yang dikeluarkan oleh Raja Sri Isyana] (Pu Sindok) dari Kerajaan Medang setelah pindah ke Jawa Timur. Sebenarnya prasasti ini bernama Prasasti Candi Lor karena ditemukan pada reruntuhan Candi Lor, di Desa Candirejo, Loceret, Nganjuk, beberapa kilometer di tenggara kota Nganjuk.
Penamaan "Anjukladang" seringkali dikaitkan dengan asal mula nama Nganjuk sekarang dan prasasti ini menyebut pertama kali toponim tersebut.
Beberapa bagian prasasti ini telah aus sehingga tidak dapat terbaca seluruhnya, terutama pada bagian atas prasasti. Dari beberapa tulisan yang tidak mengalami aus didapatkan keterangan sebagai berikut.
Raja Pu Sindok telah memerintahkan agar tanah sawah kakatikan (?) di Anjukladang dijadikan sima dan dipersembahkan kepada bathara di sang hyang prasada kabhaktyan di Sri Jayamerta, dharma dari Samgat Anjukladang.
Menurut J.G. de Casparis, penduduk Desa Anjukladang mendapat anugerah raja dikarenakan telah berjasa membantu pasukan raja di bawah pimpinan Pu Sindok untuk menghalau serangan tentara Malayu (Sumatera) ke Mataram Kuna yang pada saat itu telah bergerak sampai dekat Nganjuk. Atas jasanya yang besar, maka Pu Sindok kemudian diangkat menjadi raja. Selain itu, prasasti ini juga berisi tentang adanya sebuah bangunan suci. Dalam makalahnya yang berjudul Some Notes on Transfer of Capitals in Ancient Sri Lanka and Southeast Asia, de Casparis mengatakan bahwa dalam prasasti itu disebutkan bahwa Raja Pu Sindok mendirikan tugu kemenangan (jayastambha) setelah berhasil menahan serangan raja Malayu, dan pada tahun 937 M, tunggu tersebut digantikan oleh sebuah candi. Kemungkinan besar bangunan suci yang disebutkan dalam prasasti ini adalah bangunan Candi Lor yang terbuat dari bata yang terletak di Desa Candirejo.
Kutipan isi prasasti Anjuk Ladang yang menyebutkan hal itu: A. 14 – 15: … parnnaha nikanaŋ lmah uŋwana saŋ hyaŋ prasada atêhêra jaya[sta]mbha wiwit matêwêkniraŋlahakan satru[nira] [haj]ja[n] ri [ma]layu (= di tempat ini [yang telah terpilih] agar menjadi tempat didirikannya bangunan suci, sebagai pengganti tugu kemenangan, [di sanalah] pertamakali menandai saat ia [raja] mengalahkan musuhnya raja dari Malayu).
Prasasti ini sekarang menjadi koleksi Museum Nasional di Jakarta dengan Nomor Inventaris D.59
Prasasti Sojomerto (792 AD)
Prasasti Sojomerto
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Prasasti ini bersifat keagamaan Siwais. Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh utamanya, Dapunta Selendra, yaitu ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. Prof. Drs. Boechari berpendapat bahwa tokoh yang bernama Dapunta Selendra adalah cikal-bakal raja-raja keturunanWangsa Sailendra yang berkuasa di Kerajaan Mataram Hindu.
Bahan prasasti ini adalah batu andesit dengan panjang 43 cm, tebal 7 cm, dan tinggi 78 cm. Tulisannya terdiri dari 11 baris yang sebagian barisnya rusak terkikis usia.
Teks prasasti
Alih aksara prasasti:
- ... – ryayon çrî sata ...
- ... _ â kotî
- ... namah ççîvaya
- bhatâra parameçva
- ra sarvva daiva ku samvah hiya
- – mih inan –is-ânda dapû
- nta selendra namah santanû
- namânda bâpanda bhadravati
- namanda ayanda sampûla
- namanda vininda selendra namah
- mamâgappâsar lempewângih
Penafsiran prasasti
erjemahan inskripsi yang terbaca:
- Sembah kepada Siwa Bhatara Paramecwara dan semua dewa-dewa
- ... dari yang mulia Dapunta Selendra
- Santanu adalah nama bapaknya, Bhadrawati adalah nama ibunya, Sampula adalah nama bininya dari yang mulia Selendra.
Prasasti Kayumwunan atau Prasasti Karangtengah (842 AD)
Prasasti Kayumwungan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Prasasti Kayumwungan adalah sebuah prasasti pada lima buah penggalan batu yang ditemukan di Dusun Karangtengah,Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, sehingga lebih dikenal juga dengan nama prasasti Karangtengah. Prasasti ini ditulis dengan aksara Jawa Kuna, mempergunakan dua bahasa. Baris 1-24 ditulis dalam bahasa Sanskerta, baris selanjutnya ditulis bahasa Jawa Kuna. Masing-masing bahasa menunjuk pada angka tahun 746 Saka atau 824 Masehi.
Isi
Isi tulisan pada bagian berbahasa Sanskerta adalah tentang seorang raja bernama Samaratungga. Anaknya bernama Pramodawardhani mendirikan bangunan suci Jinalaya serta bangunan bernama Wenuwana (Sansekerta: Venuvana, yang berarti "hutan bambu") untuk menempatkan abu jenazah 'raja mega', sebutan untuk Dewa Indra. Mungkin yang dimaksud adalah raja Indra atau Dharanindra dari keluarga Sailendra.
Bagian Jawa Kuna menyebutkan bahwa pada 10 Kresnapaksa bulan Jyestha tahun 746 Saka atau 824 Masehi, Rakai Patapan pu Palar meresmikan tanah sawah di Kayumwungan menjadi tanah sima atau tanah perdikan (daerah bebas pajak).
Casparis mengaitkan bangunan Wenuwana ini dengan candi Mendut, sedangkan Soekmono mengaitkannya dengan candi Ngawen atas dasar persamaan bunyi nama. Sementara bangunan yang disebut Jinalaya diduga merujuk kepadaBorobudur.
Prasasti Kalasan (778 AD)
Prasasti Kalasan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
PrasastiKalasan adalah prasasti peninggalan Wangsa Sanjaya dariKerajaan Mataram Kuno yang berangka tahun 700 Saka atau 778 M. Prasasti yang ditemukan di kecamatan Kalasan, Sleman, Yogyakarta, ini ditulis dalam huruf Pranagari (India Utara) dan bahasa Sanskerta.
Prasasti ini menyebutkan, bahwa Guru Sang Raja berhasil membujuk Maharaja Tejahpura Panangkarana (Kariyana Panangkara) yang merupakan mustika keluarga Sailendra (Sailendra Wamsatilaka) atas permintaan keluarga Syailendra, untuk membangun bangunan suci bagi Dewi Tara dan sebuah biara bagi para pendeta, serta penghadiahan desa Kalasan untuk para sanggha (umat Buddha). Bangunan suci yang dimaksud adalah Candi Kalasan.
Prasasti ini kini disimpan dengan No. D.147 di Museum Nasional,Jakarta.
Prasasti Tri Tepusan
Prasasti Tri Tepusan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Prasasti Canggal (732 AD)
Prasasti Canggal
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Prasasti Canggal (juga disebut Prasasti Gunung Wukir atau Prasasti Sanjaya) adalah prasasti dalam bentuk candra sengkala berangka tahun 654 Saka atau 732 Masehi yang ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir di desa Kadiluwih, kecamatan Salam, Magelang, Jawa Tengah.
Prasasti yang ditulis pada stela batu ini menggunakan aksara Pallawa danbahasa Sanskerta. Prasasti dipandang sebagai pernyataan diri Raja Sanjaya pada tahun 732 sebagai seorang penguasa universal dari Kerajaan Mataram Kuno.
Isi
Prasasti ini menceritakan tentang pendirian lingga (lambang Siwa) di desa Kunjarakunja oleh Sanjaya. Diceritakan pula bahwa yang menjadi raja mula-mula adalah Sanna, kemudian digantikan oleh Sanjaya anak Sannaha, saudara perempuan Sanna.
Terjemahan bebas isi prasasti adalah sebagai berikut:
- Bait 1 : Pembangunan lingga oleh Raja Sanjaya di atas gunung
- Bait 2-6 : Pujaan terhadap Dewa Siwa, Dewa Brahma, dan Dewa Wisnu
- Bait 7 : Pulau Jawa yang sangat makmur, kaya akan tambang emas dan banyak menghasilkan padi. Di pulau itu didirikan candi Siwa demi kebahagiaan penduduk dengan bantuan dari penduduk Kunjarakunjadesa
- Bait 8-9 : Pulau Jawa yang dahulu diperintah oleh raja Sanna, yang sangat bijaksana, adil dalam tindakannya, perwira dalam peperangan, bermurah hati kepada rakyatnya. Ketika wafat Negara berkabung, sedih kehilangan pelindung
- Bait 10-11 : Pengganti raja Sanna yaitu putranya bernama Sanjaya yang diibaratkan dengan matahari. Kekuasaan tidak langsung diserahkan kepadanya oleh raja Sanna tetapi melalui kakak perempuannya (Sannaha)
- Bait 12 : Kesejahteraan, keamanan, dan ketentraman Negara. Rakyat dapat tidur di tengah jalan, tidak usah takut akan pencuri dan penyamun atau akan terjadinya kejahatan lainnya. Rakyat hidup serba senang.
Kunjarakunja-desa dapat berarti "tanah dari pertapaan Kunjara", yang diidentifikasikan sebagai tempat pertapaan Resi Agastya, seorang maharesi Hindu yang dipuja di India selatan. Dalam epik Ramayana, diceritakan bahwa Rama, Sinta, danLaksmana mengunjungi pertapaan Agastya di gunung Kunjara.
Prasasti Kelurak (782 AD)
Prasasti Kelurak
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Keadaan batu prasasti Kelurak sudah sangat aus, sehingga isi keseluruhannya kurang diketahui. Secara garis besar, isinya adalah tentang didirikannya sebuah bangunan suci untuk arca Manjusri atas perintah Raja Indra yang bergelar Sri Sanggramadhananjaya. Menurut para ahli, yang dimaksud dengan bangunan tersebut adalah Candi Sewu, yang terletak di Kompleks Percandian Prambanan. Nama raja Indra tersebut juga ditemukan pada Prasasti Ligor dan Prasasti Nalanda peninggalan kerajaan Sriwijaya.
Prasasti Kelurak ditulis dalam aksara Pranagari, dengan menggunakanbahasa Sanskerta. Prasasti ini kini disimpan dengan No. D.44 diMuseum Nasional, Jakarta.
Prasasti Nalanda (860 AD)
Prasasti Nalanda
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Prasasti Mantyasih (907 AD)
Prasasti Mantyasih
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Prasasti Mantyasih, juga disebut Prasasti Balitung atau Prasasti Tembaga Kedu, adalah prasasti berangka tahun907 M yang berasal dari Wangsa Sanjaya, kerajaan Mataram Kuno. Prasasti ini ditemukan di kampung Mateseh,Magelang Utara, Jawa Tengah dan memuat daftar silsilah raja-raja Mataram sebelum Raja Balitung. Prasasti ini dibuat sebagai upaya melegitimasi Balitung sebagai pewaris tahta yang sah, sehingga menyebutkan raja-raja sebelumnya yang berdaulat penuh atas wilayah kerajaan Mataram Kuno.
Dalam prasasti juga disebutkan bahwa desa Mantyasih yang ditetapkan Balitung sebagai desa perdikan (daerah bebas pajak). Di kampung Meteseh saat ini masih terdapat sebuah lumpang batu, yang diyakini sebagai tempat upacara penetapan sima atau desa perdikan. Selain itu disebutkan pula tentang keberadaan Gunung Susundara dan Wukir Sumbing (sekarang Gunung Sindoro dan Sumbing)
Kata "Mantyasih" sendiri dapat diartikan "beriman dalam cinta kasih"
Silsilah raja
Prasasti ini bertarikh 828 Saka, bagian yang memuat silsilah raja adalah pada bagian B baris 7-9:
ta < 7 > sak rahyang ta rumuhun. sirangbăsa ing wanua. sang mangdyan kahyaňan. sang magawai kadatwan. sang magalagah pomahan. sang tomanggöng susuk. sang tumkeng wanua gana kandi landap nyan paka çapatha kamu. rahyang < 8 > ta rumuhun. ri mdang. ri poh pitu. rakai mataram. sang ratu sańjaya. çri mahǎrǎja rakai panangkaran. çri mahǎrǎja rakai panunggalan. çri mahǎrǎja rakai warak. çri mahǎrǎja rakai garung. çri mahǎrǎja rakai pikatan < 9 > çri mahǎrǎja rakai kayuwańi. çri mahǎrǎja rakai watuhumalang. lwiha sangkā rikā landap nyān paka çapatha çri mahǎrǎja rakai watukura dyah dharmmodaya mahāçambhu.
Penafsiran prasasti
Bosch dalam karyanya Sriwijaya, de Sailendrawamsa en de Sanjayawamsa (1952) berpendapat bahwa di Kerajaan Medangdua dinasti yaitu Wangsa Sanjaya dan Wangsa Sailendra sama-sama berkuasa. Wangsa Sanjaya didirikan oleh Sanjaya, pendiri Kerajaan Medang yang beragama Hindu Siwa. Maharaja selanjutnya ialah Rakai Panangkaran, yang menurutnya dikalahkan oleh Wangsa Sailendra. Maka di Medang terdapat Wangsa Sanjaya berkuasa di utara Jawa dan Wangsa Sailendra berkuasa di selatan Jawa. Namun Putri Maharaja Samaratungga dari Wangsa Sailendra yang bernamaPramodawardhani menikah dengan Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya, yang kemudian mewarisi takhta mertuanya dan Wangsa Sanjaya pun berkuasa kembali di Medang. Bosch berasumsi bahwa gelar rakai adalah nama silsilah wangsa.
Daftar silsilah raja-raja Wangsa Sanjaya berdasarkan prasasti Mantyasih menurut Bosch, adalah:
- Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya,
- Sri Maharaja Rakai Panangkaran,
- Sri Maharaja Rakai Panunggalan,
- Sri Maharaja Rakai Warak,
- Sri Maharaja Rakai Garung,
- Sri Maharaja Rakai Pikatan,
- Sri Maharaja Rakai Kayuwangi,
- Sri Maharaja Rakai Watuhumalang, dan
- Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Dharmmodaya Mahasambhu.
Pendapat berbeda diberikan oleh Slametmuljana. Ia berpendapat daftar tersebut bukanlah silsilah Wangsa Sanjaya, melainkan daftar raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Medang. Gelar Rakai menurutnya berarti penguasa atau pejabat di daerah atau raja bawahan yang masih mempunyai hubungan keluarga dengan maharaja yang masih bertahta. Ia pun memperbandingkan isi prasasti Mantyasih dengan prasasti Kelurak, prasasti Kayumwungan, prasasti Siwagraha, danprasasti Nalanda; dan berpendapat bahwa Rakai Panangkaran, Rakai Panunggalan, Rakai Warak, dan Rakai Garung adalah dari Wangsa Sailendra, karena Maharaja Rakai Panangkaran Dyah Pancapana sendiri bergelarSailendrawamsatilaka (artinya "permata Wangsa Sailendra").
Prasasti Sanggurah
Prasasti Sanggurah
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas| Landaian di sebelah selatan bukit Minto, daerah di mana terletak tanah milik keluarga Minto di Skotlandia |
Prasasti Sanggurah merupakan prasasti berangka tahun 982 Masehi yang ditemukan di daerah Malang dan menyebut nama penguasa daerah itu, Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa Sri Wijayalokanamottungga (Dyah Wawa). Prasasti berbentuk tablet ini disebut juga Prasasti Minto karena dihadiahkan oleh Raffles kepadaLord Minto, keduanya pernah memimpin Hindia Belanda ketika Britania Raya menguasai Belanda pada dasawarsa kedua abad ke-19. Raffles sendiri memperolehnya sebagai hadiah dari Kolonel Colin Mackenzie, yang mengambilnya setelah melihat batu bertulis ini.
Prasasti bertinggi 2 meter dengan bobot 3,8 ton ini dianggap penting karena menyebut raja Medang, yang berpusat di Jawa Tengah, sebagai penguasa daerah Malang, di Jawa Timur, meskipun angka tahunnya tidak bersepakat dengan prasasti lainnya. Isinya dianggap dapat membantu memecahkan misteri pindahnya pusat kekuasaan dari Jawa Tengah ke wilayah timur Pulau Jawa.
Setelah berpuluh-puluh tahun berada di tangan pewaris keluarga Lord Minto di Roxburghshire, Skotlandia, benda bersejarah ini akan dikembalikan ke Indonesia dan disimpan di Museum Nasional. Proses negosiasi pemindahan ini telah dilakukan Pemerintah Indonesia sejak 2004 dan kemudian dibantu oleh Hashim Djojohadikusumo, seorang pengusaha nasional.
Sabtu, 11 Januari 2014
prasasti Pohsarang
Semoga semua mendapat pengetahuan yang bermanfaat. Inilah tulisannya.
Aksara Kadiri/ Kediri Kuadrat di Mojokerto
Bertambah lagi
informasi tentang aksara Kadiri Kuadrat, yang kali ini aksaranya cukup
banyak (ada empat baris) dalam satu prasasti. Salah satu ciri aksara ini
yang tebal dan cenderung memakan tempat jika hendak ditulis/dipahat,
membuat aksara ini lebih banyak dipakai sebagai aksara dekoratif. Hal
ini juga yang menyebabkan informasi mengenai aksara ini lebih sedikit
ketimbang aksara kawi yang lain. Atau apa mungkin aksara ini dianggap
sudah usang oleh generasi belakangan, lalu memilih menggunakan aksara
yang lebih sederhana? Karena kalau dilihat, aksara yang ada di prasasti
candi Sukuh dipahat "bold" seperti halnya Kadiri Kuadrat. Namun, aksara
di Sukuh lebih kursif daripada Kadiri Kuadrat.
Oke, inilah dia
prasasti Pohsarang (kaya bahasa Korea, ya? :D) atau prasasti Lusem.
Salah satu peninggalan dari Mojokerto yang masih daerah Kabupaten
Kediri.
Gambar 1. Keadaan prasasti Pohsarang yang aksaranya sudah tidak lengkap.
Gambar 2. Repro
dan alih-aksara prasasti. Terdapat beberapa kekeliruan pada alih-aksara
di gambar ini. Untuk koreksinya bisa lihat di bawah.
Gambar 3. Alih-aksara kawi kuadrat ke aksara Bali.
Isi Prasasti Pohsarang yang pernah dibaca oleh seorang epigraf bernama Prof. MM. Sukarto Kartoatmojo adalah (dengan sedikit pengubahan dan perbaikan, saya dapat dari sini):
- ' 934 têwêk niṅ hnu binênêrakên da
- mêl samgat lusêm pu ghêk
- saṅ-apañji têpêt-i pananêm
- boddhi wariṅin '
- Tahun 934 Saka (bertepatan 1012 M) batas patok jalan di
- luruskan oleh samgat lusêm pu ghêk
- saṅ apañji têpêt dengan penanaman
- pohon beringin”.
Langganan:
Postingan (Atom)






