Rabu, 05 Desember 2012

Atlas Bumi - Pustaka Ilmu Pengetahuan



Siang dan malam, “mata” elektronik mengamati seluruh langit. Mata elektronik ini memetakan Bumi, membuat pola-pola cuaca dan menyelidiki sumber mineral baru.
 

Kanan: Sebuah foto infra merah dari daerah Imperial Valley-Salton Sea di Kalifornia. Merah menandakan aluvium; ungu, basalt; kuning, bukit pasir; putih, awan; biru-hijau, tumbuh-tumbuhan.

Selasa, 04 Desember 2012

Jatayu



JAYATU DEVAÁ
s no bN/ujRinta s iv/ata /amain ved .uvnain ivëa - 
y] deva_Am*tmanxanaSt*t¢ye /aman{?yWryNt --

Sa no bandhurjanità sa vidhàtà dhàmàni veda bhuvanàni viúvà,
Yatra devà 'amåtamànaúànàs tåtìye dhàmànn adhyairayanta.
(Yajurveda: 32.10)
Wahai manusia, Tuhan (sah) adalah saudara bagi semua orang (nah bandhuh), Dialah pencipta jaat raya (janità), Dialah (sah) menyempurnakan seluruh keinginan manusia (vidhàtà) dan mengetahui (Veda) seluruh (viúvà) loka-loka (bhuvanàni) dan nama-nama tempat dan kelahiran. Di mana para sarjana (devà) melepaskan semua duka dari dunia ini (tåtìye) untuk mencari tempat kesempurnaan, yaitu Tuhan (dhàmàni) dengan mendapatkan mokûa (amåtam ànasànà) dan tinggal dalam kedamaian (adhyairayanta) Tuhan tersebut adalah guru, raja, hakim, bagi semua orang. Untuk itu, semua orang hendaknya memuji Beliau dengan bakti.

’Wahai manusia, Tuhan merupakan saudara bagi semua umat manusia di dunia ini, pencipta jagat raya ini. Dia penyempura keinginan umat manusia, Maha Mengetahui semua penjuru loka-loka dan juga mengetahui nama-nama tempat, dan kelahiran semua mahluk di dunia ini. Di mana para sarjana di dunia ini melepaskan ikatan dukungan untuk mencari kesem­pur­naan yaitu mokûa. Dan tinggal dalam kedamaian. Tuhan merupakan guru, raja diraja, dan hakim bagi seluruh mahluk di dunia ini, untuk itu hendaknya semua orang memuja Beliau dengan úraddhà dan bhakti’.

Mantra tersebut berasal dari Yajurveda. Hampir seluruh mantra dari Yajurveda disebut mantra untuk ritual, yaitu Karmakàóða. Sedangkan mantra dalam ÅgVeda adalah untuk jñàna (pengetahuan), demikian juga dalam Sàmaveda (Upàsana). Pengucapan mantra-mantra dari Ågveda dan veda-veda lain ditentukan dengan chanda supaya komunikasi dengan Tuhan bisa berlangsung dengan baik. Mantra di atas adalah salah satu mantra yang perlu diucapkan dalam yajña karena mantranya berasal dari karmakàóða. 

Dijelaskan dalam mantra tersebut kepada seluruh umat manusia agar mereka mengakui keberadaan Tuhan. Untuk itu Dia disapa dengan kata bandhu, yang berarti saudara bagi semua orang. Seperti saudara yang selalu membantu sesama saudara dan bisa dipercaya, Tuhan menempatkan diri saudara supaya manusia percaya dan dapat menerima. Di sini Tuhan disebut vidhàtà yang berarti Dia yang memenuhi segala keinginan yang baik bagi semua manusia, walaupun manusia lupa berapa kali lahir di dunia ini, dan telah melakukan perbuatan dengan sadar atau tanpa sadar tetapi Tuhan sebagai Mahatahu dan mengetahui segalanya. Oleh karena itu, sesuai dengan karma masing-masing, Dia memberikan hasilnya. 

Manusia bebas melakukan apa pun di dunia ini, tetapi hasilnya, tergantung kepada Tuhan. Untuk itu, semua manusia agar memahami Tuhan dan berusaha mendekatkan diri dengan-Nya supaya kita mendapatkan mokûa. Pada waktu tidak ada karma baik dan buruk, ikatan duniawi, dan dalam pikiran/budi, berarti sudah tidak ada keraguan dan pertanyaan lagi, maka yang ada hanya kedamaian, sehingga manusia tersebut sudah siap menuju mokûa.

Seperti diketahui, dengan karma yang baik, seseorang bisa mendapatkan surga tetapi setelah hasilnya selesai dinikmati, akan kembali ke bumi seperti dulu. Tetapi dalam mokûa tidak demikian, karena semua perbuatan baik maupun buruk telah selesai di dunia ini dan lepas dari segala ikatan karma baik maupun buruk.

Hal tersebut sudah dibahas dalam seluruh Upaniûad. Mantra di atas menekankan supaya kita berusaha mendapatkan mokûa. Untuk itu diberikan kebebasan bahwa setiap orang boleh mendapatkannya. Tetapi, yang bersangkutan perlu mengikuti jalan yang benar. Di dunia ini terdapat dua jalan. Jalan ke neraka pada awalnya begitu indah, bersih, penuh dengan perhiasan dan fasilitas yang menyenangkan. Tetapi pada akhirnya, jalan ini terdapat papan bertuliskan "menuju neraka". 

Jalan kedua menuju surga /mokûa. Jalan tersebut sulit, dan penuh lubang yang menyakitkan bagi musafir yang melaluinya. Tetapi jika dia dengan keberanian dan kerja keras berhasil melewati jalan tersebut maka terakhir dia akan menemui papan bertuliskan menuju mokûa”. Dengan demikian jalan yang gampang dan indah berujung neraka. Sebaliknya, jalan yang sulit dan berliku berujung mokûa.

Zaman-zaman Bumi - Pustaka Ilmu Pengetahuan

Hampir 500 juta tahun dari sejarah Bumi mencakup perubahan dan pergolakan iklim yang hebat.
Di daerah kutub, daratan ditutupi es dan salju
- peninggalan dari zaman es terakhir

Senin, 03 Desember 2012

5 kesalahpahaman umum antara - Wanita dan Pria


5 KESALAHPAHAMAN UMUM 

antara Wanita dan Pria

  1. Saat Wanita berkata, "Kau tidak mendengarkan," 
    Pria berkata, "Apa maksudmu aku tidak mendengarkan? Aku dapat mengatakan padamu segala yang kaukatakan."
  2. Saat wanita berkata, "Aku merasa kau tidak hadir di sini," 
    Pria berkata, "Apa maksudmu aku tidak hadir di sini? Tentu saja aku ada di sini. Bukankah kau melihat tubuhku?"
  3. Saat wanita berkat
    a, "Kau tidak peduli padaku,"Pria berkata, "Tentu saja aku peduli. Kaupikir kenapa aku berusaha memecahkan masalah ini?"
  4. Saat wanita berkata, "Aku merasa diriku tidak penting bagimu," 
    Pria berkata, "Konyol sekali. Tentu saja kau penting."
  5. Saat wanita berkata, "Kau tak punya perasaan. Kau terlalu banyak berpikir," 
    Pria berkata, "Apa salahnya tindakan ini? Bagaimana aku harus menyelesaikan masalah ini?"
     

Jaya



JAYA
sUyoR me c=uvaRt" p[a,o ANtir=' AaTma p*iqv¢ xr¢rm( - 
ASt*to namahmymiSm s AaTman' in d/e Ûavap*iqv¢>ya' gop¢qay --

Sùryo me cakûurvàtaá pràóo antarikûam àtmà påthivì úarìram,
Aståto nàmàhamayam asmi sa àtmànaý ni dadhe dyàvàpåthivìbhyàý gopìthàya.
(Atharvaveda: 5.9.7)
Sùrya (Sùryo) adalah mata-Ku (me cakûu) dan bàyu (vàta) adalah nafas-Ku (pràóa), àtma-Ku (àtma) adalah antarikûa (antarikûam), badan-Ku (úariram) adalah pertiwi (påthivì). Nama-Ku adalah yang tidak bisa dikalahkan (nàmà-hamayamasmi), àtma-Ku itu (àtmànam) menetap (nidadhe) di antara Dyuloka dan Bhùloka, dan Aku (Tuhan) selalu jaya.

’Sùrya adalah mata-Ku, bàyu adalah nafas-Ku, antarikûa adalah àtma-Ku, pertiwi adalah badan-Ku, ajaya adalah nama-Ku dan àtma-Ku menetap di Dyuloka, Bhùáloka, dan Aku selalu berjaya’. 

Dalam mantra tersebut, Tuhan meyakinkan orang-orang yang tidak percaya dan ingkar akan perintah dan tersiratkan di sana "Wahai manusia, matahari adalah mata-Ku, maka pada siang hari aku bisa melihat melalui matahari, demikian juga pada malam hari bulan adalah mata-Ku". Jelas di sini bagaimana pun Tuhan pasti mengetahui seseorang itu melakukan dosa atau tidak, karena melalui matahari dia selalu melihat setiap orang. Di samping itu lewat matahari kita diberkati untuk bisa melihat keadaan atau dunia. Jika tidak ada sùrya (matahari) jelas kita tidak bisa melihat dunia ini. 

Seperti dalam Puruûa Sùkta dari Ågveda dijelaskan bahwa "Aku mempunyai ribuan kepala, ribuan mata, ribuan tangan". Di sini dimaksudkan agar manusia percaya bahwa Tuhan itu selalu melihat semua mahluk, untuk itu kita harus menghindari kejahatan. Banyak di antara kita yang menganggap bahwa pada malam hari tidak ada yang melihat perbu-atan kita, sehingga pada waktu itu sering dimanfaatkan untuk melakukan kejahatan. Kita lupa, Tuhan melalui dua matanya yaitu matahari dan bulan, selalu akan dapat melihat.

Lebih lanjut dikatakan bahwa bàyu (angin) adalah napas-Nya. Banyak orang menganggap bahwa Tuhan tidak ada karena tidak bisa dilihat. Dalam mantra tersebut dijelaskan bahwa Tuhan itu seperti bàyu, yaitu ada di mana-mana, tetapi tidak dapat dilihat, hanya keberadaan-Nya bisa dirasakan seperti bàyu. Seperti disebutkan, bàyu adalah napas-Nya, demikianlah melalui napas Tuhan semua mahluk mendapatkan pràóa yang menghidupi kita. Jelas tanpa bàyu manusia tidak bisa hidup.

Antarikûa adalah àtma-Nya. Kita tidak bisa membayangkan seberapa besar ukuran angkasa, demikian juga àtma. Àtma adalah kekal, sùkûma dan besar seperti antarikûa. Bumi adalah badan-Nya. Seperti bumi yang bisa kita lihat, demikianlah bumi adalah badan Tuhan sendiri. Kita perlu menyadarinya supaya kita selalu menjaga kebersihan dan melestarikan bumi ini supaya menjadi indah. Hendaknya bumi dianggap ibu kita sendiri agar kita selalu menghormatinya karena bumi adalah badan Tuhan. 

Setelah menjelaskan bahwa seluruh dunia (bumi, antarikûa dan lain-lain) adalah bagian dari Tuhan itu sendiri, bagian terakhir mantra tersebut menyebutkan bahwa Dia menganggap diri sendiri paling jàyà dan tidak ada yang bisa mengalahkan-Nya. Dia menaruh diri-Nya sendiri di antara dyuloka dan påthivìloka dan selalu jàyà. 

Mantra tersebut begitu penting karena menjelaskan bahwa Tuhan selalu melihat kita. Tuhanlah yang menciptakan dunia ini supaya semua mahluk berterima kasih dan berusaha untuk berbuat baik.

Asal mula Bumi - Pustaka Ilmu Pengetahuan

Asal mula Bumi
Bagaimana Bumi dibentuk? Menurut anggapan beberapa teori terbentuknya Bumi akibat dari malapetaka, misalnya sebuah bintang hampir bertabrakan dengan matahari (lihat kiri).
Teori “malapetaka” yang lain berdasar pemikiran bahwa pada suatu ketika matahari mempunyai “teman” sebuah bintang, yang meledak dan meninggalkan sedikit bahan yang terjebak dalam pengitaran mengelilingi matahari. Bahan inilah yang mungkin membentuk planet-planet yang beredar itu.
Sekarang kita percaya bahwa seluruh Tata Surya dibentuk dari awan gas dan debu yang berputar. Di bawah pengaruh gaya berat awan itu menyusut. Suhu dan tekanannya bertambah tinggi, hingga menjadi matahari yang panas membakar. Sambil berputar cepat, melepaskan cincin debu yang memadat membentuk Bumi yang padat dan planet lain.


     Menurut teori perkembangan, pada mulanya Tata Surya merupakan awan gas yang dingin. Waktu menyusut oleh pengaruh gaya berat, dibentuknya matahari dan planet-planet. Penyusutan ini menyebabkan naiknya suhu matahari, sehingga diciptakannya suatu rangkaian reaksi nuklir. Selanjutnya menurut teori ini, jutaan tahun sejak sekarang, matahari akan membesar, “menghabiskan” planet-planet dan akhirnya menjadi hitam dan dingin kembali.

Minggu, 02 Desember 2012

Ekam Sat



EKAÝ SAD VIPRÀ BAHUDHÀ VADANTI
—Nd–' im]' vä,mig{mahurqo idVy" s sup,oR gäTman( - 
Ek' siÜp[a bhu/a vdNTyig{' ym' matirëanmahu" --

Indraý mitraý varuóam agnim àhur atho divyaá sa suparóo garutmàn,
Ekaý ûaî viprà bahudhà vadantyagniý yamaý màtariúvànam àhuá.
(Ågveda: I.164.46)
Nama-Ku adalah Indra (indram), Mitra (mitram), Varuóa (varuóam), Agni (agnim), dan juga disebut (àhur atho), Cahaya (divyaá) dan juga (saá) mempunyai sayap yang indah (suparóo), maka nama-Ku juga Garutmàt (Maha Agung). Para sarjana (sadviprà) menyebut-Ku (vadanti) yang hanya satu yaitu Aku (ekam) dengan nama-nama berbeda (bahudhà) demikian juga disebut Agni, Yama dan Màtariúvan (cosmic breath/nafas kosmik).

’Nama-Ku adalah Indra, Mitra, Varuóa, Agni, cahaya dan mempunyai sayap yang sangat indah. Oleh karena itu aku disebut Garutmàt. Demikian juga aku disebut sebagai Agni, Yama, dan Màtariúvan. Aku hanya satu akan tetapi para sarjana menyebutku dengan nama yang berbeda-beda’.

Mantra di atas tersebut terdapat dalam Ågveda yang membicarakan nama-nama para dewa, yang terdapat dalam empat Veda. Supaya seseorang tidak salah paham akan keberadaan dewa-dewa, maka mantra tersebut menjelaskan bahwa semua nama dari dewa adalah nama Tuhan yang hakikatnya adalah satu. 

Masalah tentang nama-nama dewa tersebut, juga dibahas dalam Veda yang lain seperti yang terdapat dalam mantra - tad eva agnis tad àdityas tad vàyus tad u candramàá, ... (Yajurveda: 32-1), yang berarti Tuhan adalah satu yang disebut dengan nama-nama berbeda seperti Agni, Àditya, Vàyu, dan Candrama. 

Seperti dalam mantra: "Tuhan adalah satu, tetapi disebut dengan banyak nama" - yo devànàm nàmadhà eka eva... (Yajurveda-17 - 27). Diungkapkan bahwa Tuhan adalah satu cahaya yang sinarnya terbias dalam bentuk yang berbeda, jadi Tuhan adalah satu dan tidak ada yang kedua, ketiga, atau keempat (na dvitìyo na tåtì yaú caturtho nàpy ucyate - Atharvaveda: 13-4-16). 

Demikian juga terdapat ..sa eûa eka ekavåd eka eva,.. (Atharvaveda-13-4-20) bahwa Tuhan adalah satu dan tiada yang lainnya. Sarve asmin devà eka våto bhavanti,.. (Atharvaveda: 13-4-21) berarti "seluruh dewa menjadi satu dalam Tuhan". 

Seperti diketahui bahwa Tuhan mempunyai ribuan nama, tetapi bukan berarti Tuhan lebih dari satu. Jelas, Tuhan hanya satu dan tidak ada yang kedua. Hanya para sarjana yang menyebut nama-Nya secara berbeda sesuai dengan pengetahuannya. Kita tidak boleh meributkan nama Tuhan, apakah nama Tuhan itu Viûóu, Agni, Úiva, Brahmà, dan lain-lainnya. Orang-orang yang sering membeda-bedakan Tuhan karena namanya saling bertengkar, berdebat, dan mempersoalkan nama-nama Tuhan. 

Mantra tersebut adalah jawabannya agar mereka sadar dan tidak ribut hanya karena nama berbeda atau hanya karena salah satu nama yang lebih tinggi, lebih baik, atau lebih lainnya. Di sini kita bisa melihat bahwa sebenarnya semua nama itu sama yaitu Tuhan. Pada waktu kita menyebut nama Úiva, semua dewa akan termasuk di dalamnya dan Úiva-lah yang mewakili dewa-dewa itu, demikian juga yang lain. 

Banyak di antara kita bertengkar hanya karena perbedaan nama, tetapi kita tidak pernah melihat secara mendalam, seperti kita meributkan kulit kelapa yaitu kulit luarnya, tetapi kita tidak pernah merasakan kenikmatan isi di dalamnya. Untuk itu, dalam mantra tersebut dijelaskan agar manusia tidak salah paham atas nama-nama yang berbeda, karena semua nama tersebut adalah nama Tuhan sendiri. Kapan kita bisa memahami nama-nama Tuhan yang hakikatnya hanya satu, maka pada waktu itu baru kita akan menikmati kesempurnaan, keagungan, dan kebesaran-Nya.

Fungsi Gàyatrì Mantra begitu penting. Oleh karena itu, kita perlu berjapa setiap hari jika ingin hidup bahagia di dunia, dan mendapatkan mokûa.

Lahirnya Bumi - Pustaka Ilmu Pengetahuan

Sesudah dibentuk dari awan gas dan debu kurang lebih 4500 juta tahun yang lalu, bayi Bumi memulai sejarahnya yang mengagumkan.
 
Teori  pasang-surut mengemukakan bahwa Bumi dibentuk pada waktu sebuah bintang hampir bertabrakan dengan matahari, dan menarik keluar dari permukaan matahari itu suatu gelombang gas yang amat besar. Gas ini pecah menjadi bagian-bagian yang mendingin dan memadat membentuk planet-planet.