Siang dan malam, “mata” elektronik mengamati seluruh langit. Mata elektronik ini memetakan Bumi, membuat pola-pola cuaca dan menyelidiki sumber mineral baru.
All about Hindu, Catur Veda, Rigveda, Yajurveda, Samaveda, Atharvaveda, Darsana, Bhagawad Gita, Mahabharata, Ramayana, Teologi, Purana, Itihasa, Resi, Doa-doa, Wayang, Tempat Suci, Tirthayatra, termasuk Lontar
Rabu, 05 Desember 2012
Atlas Bumi - Pustaka Ilmu Pengetahuan
Siang dan malam, “mata” elektronik mengamati seluruh langit. Mata elektronik ini memetakan Bumi, membuat pola-pola cuaca dan menyelidiki sumber mineral baru.
Selasa, 04 Desember 2012
Jatayu
JAYATU
DEVAÁ
s no bN/ujRinta s
iv/ata /amain ved .uvnain ivëa -
y]
deva_Am*tmanxanaSt*t¢ye /aman{?yWryNt --
Sa no bandhurjanità
sa vidhàtà dhàmàni veda bhuvanàni viúvà,
Yatra devà
'amåtamànaúànàs tåtìye dhàmànn adhyairayanta.
(Yajurveda: 32.10)
Wahai manusia, Tuhan
(sah) adalah saudara bagi semua orang (nah bandhuh), Dialah
pencipta jaat raya (janità), Dialah (sah) menyempurnakan seluruh
keinginan manusia (vidhàtà) dan mengetahui (Veda) seluruh (viúvà)
loka-loka (bhuvanàni) dan nama-nama tempat dan kelahiran. Di mana para
sarjana (devà) melepaskan semua duka dari dunia ini (tåtìye)
untuk mencari tempat kesempurnaan, yaitu Tuhan (dhàmàni) dengan
mendapatkan mokûa (amåtam ànasànà) dan tinggal dalam kedamaian (adhyairayanta)
Tuhan tersebut adalah guru, raja, hakim, bagi semua orang. Untuk itu, semua
orang hendaknya memuji Beliau dengan bakti.
’Wahai manusia, Tuhan
merupakan saudara bagi semua umat manusia di dunia ini, pencipta jagat raya
ini. Dia penyempura keinginan umat manusia, Maha Mengetahui semua penjuru loka-loka
dan juga mengetahui nama-nama tempat, dan kelahiran semua mahluk di dunia ini.
Di mana para sarjana di dunia ini melepaskan ikatan dukungan untuk mencari
kesempurnaan yaitu mokûa. Dan tinggal dalam kedamaian. Tuhan merupakan
guru, raja diraja, dan hakim bagi seluruh mahluk di dunia ini, untuk itu
hendaknya semua orang memuja Beliau dengan úraddhà dan bhakti’.
Mantra tersebut
berasal dari Yajurveda. Hampir seluruh mantra dari Yajurveda
disebut mantra untuk ritual, yaitu Karmakàóða. Sedangkan mantra dalam ÅgVeda
adalah untuk jñàna (pengetahuan), demikian juga dalam Sàmaveda
(Upàsana). Pengucapan mantra-mantra dari Ågveda dan veda-veda
lain ditentukan dengan chanda supaya komunikasi dengan Tuhan bisa
berlangsung dengan baik. Mantra di atas adalah salah satu mantra yang perlu
diucapkan dalam yajña karena mantranya berasal dari karmakàóða.
Dijelaskan dalam
mantra tersebut kepada seluruh umat manusia agar mereka mengakui keberadaan
Tuhan. Untuk itu Dia disapa dengan kata bandhu, yang berarti saudara
bagi semua orang. Seperti saudara yang selalu membantu sesama saudara dan bisa
dipercaya, Tuhan menempatkan diri saudara supaya manusia percaya dan dapat
menerima. Di sini Tuhan disebut vidhàtà yang berarti Dia yang memenuhi
segala keinginan yang baik bagi semua manusia, walaupun manusia lupa berapa
kali lahir di dunia ini, dan telah melakukan perbuatan dengan sadar atau tanpa
sadar tetapi Tuhan sebagai Mahatahu dan mengetahui segalanya. Oleh karena itu,
sesuai dengan karma masing-masing, Dia memberikan hasilnya.
Manusia bebas
melakukan apa pun di dunia ini, tetapi hasilnya, tergantung kepada Tuhan. Untuk
itu, semua manusia agar memahami Tuhan dan berusaha mendekatkan diri dengan-Nya
supaya kita mendapatkan mokûa. Pada waktu tidak ada karma baik
dan buruk, ikatan duniawi, dan dalam pikiran/budi, berarti sudah tidak ada
keraguan dan pertanyaan lagi, maka yang ada hanya kedamaian, sehingga manusia
tersebut sudah siap menuju mokûa.
Seperti diketahui,
dengan karma yang baik, seseorang bisa mendapatkan surga tetapi setelah
hasilnya selesai dinikmati, akan kembali ke bumi seperti dulu. Tetapi dalam mokûa
tidak demikian, karena semua perbuatan baik maupun buruk telah selesai di dunia
ini dan lepas dari segala ikatan karma baik maupun buruk.
Hal tersebut sudah
dibahas dalam seluruh Upaniûad. Mantra di atas menekankan supaya kita
berusaha mendapatkan mokûa. Untuk itu diberikan kebebasan bahwa setiap
orang boleh mendapatkannya. Tetapi, yang bersangkutan perlu mengikuti jalan
yang benar. Di dunia ini terdapat dua jalan. Jalan ke neraka pada awalnya
begitu indah, bersih, penuh dengan perhiasan dan fasilitas yang menyenangkan.
Tetapi pada akhirnya, jalan ini terdapat papan bertuliskan "menuju
neraka".
Jalan kedua menuju
surga /mokûa. Jalan tersebut sulit, dan penuh lubang yang menyakitkan
bagi musafir yang melaluinya. Tetapi jika dia dengan keberanian dan kerja keras
berhasil melewati jalan tersebut maka terakhir dia akan menemui papan
bertuliskan menuju mokûa”. Dengan demikian jalan yang gampang dan indah
berujung neraka. Sebaliknya, jalan yang sulit dan berliku berujung mokûa.
Senin, 03 Desember 2012
5 kesalahpahaman umum antara - Wanita dan Pria
5 KESALAHPAHAMAN UMUM
antara Wanita dan Pria
- Saat Wanita berkata, "Kau tidak mendengarkan,"
Pria berkata, "Apa maksudmu aku tidak mendengarkan? Aku dapat mengatakan padamu segala yang kaukatakan." - Saat wanita berkata, "Aku merasa kau tidak hadir di sini,"
Pria berkata, "Apa maksudmu aku tidak hadir di sini? Tentu saja aku ada di sini. Bukankah kau melihat tubuhku?" - Saat wanita berkata, "Kau tidak peduli padaku,"Pria berkata, "Tentu saja aku peduli. Kaupikir kenapa aku berusaha memecahkan masalah ini?"
- Saat wanita berkata, "Aku merasa diriku tidak penting bagimu,"
Pria berkata, "Konyol sekali. Tentu saja kau penting." - Saat wanita berkata, "Kau tak punya perasaan. Kau terlalu banyak berpikir,"
Pria berkata, "Apa salahnya tindakan ini? Bagaimana aku harus menyelesaikan masalah ini?"
Jaya
JAYA
sUyoR me
c=uvaRt" p[a,o ANtir=' AaTma p*iqv¢ xr¢rm( -
ASt*to namahmymiSm s
AaTman' in d/e Ûavap*iqv¢>ya' gop¢qay --
Sùryo me cakûurvàtaá pràóo antarikûam
àtmà påthivì úarìram,
Aståto nàmàhamayam
asmi sa àtmànaý ni dadhe dyàvàpåthivìbhyàý gopìthàya.
(Atharvaveda: 5.9.7)
Sùrya (Sùryo) adalah
mata-Ku (me cakûu) dan bàyu (vàta) adalah nafas-Ku (pràóa),
àtma-Ku (àtma) adalah antarikûa (antarikûam), badan-Ku (úariram)
adalah pertiwi (påthivì). Nama-Ku adalah yang tidak bisa dikalahkan (nàmà-hamayamasmi),
àtma-Ku itu (àtmànam) menetap (nidadhe) di antara Dyuloka
dan Bhùloka, dan Aku (Tuhan) selalu jaya.
’Sùrya adalah
mata-Ku, bàyu adalah nafas-Ku, antarikûa adalah àtma-Ku,
pertiwi adalah badan-Ku, ajaya adalah nama-Ku dan àtma-Ku menetap
di Dyuloka, Bhùáloka, dan Aku selalu berjaya’.
Dalam mantra
tersebut, Tuhan meyakinkan orang-orang yang tidak percaya dan ingkar akan
perintah dan tersiratkan di sana "Wahai manusia, matahari adalah
mata-Ku, maka pada siang hari aku bisa melihat melalui matahari, demikian juga
pada malam hari bulan adalah mata-Ku". Jelas di sini bagaimana pun
Tuhan pasti mengetahui seseorang itu melakukan dosa atau tidak, karena melalui
matahari dia selalu melihat setiap orang. Di samping itu lewat matahari kita
diberkati untuk bisa melihat keadaan atau dunia. Jika tidak ada sùrya (matahari)
jelas kita tidak bisa melihat dunia ini.
Seperti dalam Puruûa
Sùkta dari Ågveda dijelaskan bahwa "Aku mempunyai
ribuan kepala, ribuan mata, ribuan tangan". Di sini dimaksudkan agar
manusia percaya bahwa Tuhan itu selalu melihat semua mahluk, untuk itu kita
harus menghindari kejahatan. Banyak di antara kita yang menganggap bahwa pada
malam hari tidak ada yang melihat perbu-atan kita, sehingga pada waktu itu
sering dimanfaatkan untuk melakukan kejahatan. Kita lupa, Tuhan melalui dua
matanya yaitu matahari dan bulan, selalu akan dapat melihat.
Lebih lanjut
dikatakan bahwa bàyu (angin) adalah napas-Nya. Banyak orang menganggap
bahwa Tuhan tidak ada karena tidak bisa dilihat. Dalam mantra tersebut
dijelaskan bahwa Tuhan itu seperti bàyu, yaitu ada di mana-mana, tetapi
tidak dapat dilihat, hanya keberadaan-Nya bisa dirasakan seperti bàyu.
Seperti disebutkan, bàyu adalah napas-Nya, demikianlah melalui napas
Tuhan semua mahluk mendapatkan pràóa yang menghidupi kita. Jelas tanpa bàyu
manusia tidak bisa hidup.
Antarikûa adalah àtma-Nya.
Kita tidak bisa membayangkan seberapa besar ukuran angkasa, demikian juga
àtma. Àtma adalah kekal, sùkûma dan besar seperti antarikûa.
Bumi adalah badan-Nya. Seperti bumi yang bisa kita lihat, demikianlah bumi
adalah badan Tuhan sendiri. Kita perlu menyadarinya supaya kita selalu menjaga
kebersihan dan melestarikan bumi ini supaya menjadi indah. Hendaknya bumi
dianggap ibu kita sendiri agar kita selalu menghormatinya karena bumi adalah
badan Tuhan.
Setelah menjelaskan
bahwa seluruh dunia (bumi, antarikûa dan lain-lain) adalah bagian dari Tuhan
itu sendiri, bagian terakhir mantra tersebut menyebutkan bahwa Dia menganggap
diri sendiri paling jàyà dan tidak ada yang bisa mengalahkan-Nya. Dia
menaruh diri-Nya sendiri di antara dyuloka dan påthivìloka dan
selalu jàyà.
Mantra tersebut
begitu penting karena menjelaskan bahwa Tuhan selalu melihat kita. Tuhanlah
yang menciptakan dunia ini supaya semua mahluk berterima kasih dan berusaha
untuk berbuat baik.
Asal mula Bumi - Pustaka Ilmu Pengetahuan
Asal mula Bumi
Bagaimana Bumi dibentuk? Menurut anggapan
beberapa teori terbentuknya Bumi akibat dari malapetaka, misalnya sebuah
bintang hampir bertabrakan dengan matahari (lihat kiri).
Teori
“malapetaka” yang lain berdasar pemikiran bahwa pada suatu ketika matahari
mempunyai “teman” sebuah bintang, yang meledak dan meninggalkan sedikit bahan
yang terjebak dalam pengitaran mengelilingi matahari. Bahan inilah yang mungkin
membentuk planet-planet yang beredar itu.
Sekarang
kita percaya bahwa seluruh Tata Surya dibentuk dari awan gas dan debu yang
berputar. Di bawah pengaruh gaya berat awan itu menyusut. Suhu dan tekanannya
bertambah tinggi, hingga menjadi matahari yang panas membakar. Sambil berputar
cepat, melepaskan cincin debu yang memadat membentuk Bumi yang padat dan planet
lain.
Menurut
teori perkembangan, pada mulanya Tata Surya merupakan awan gas yang dingin.
Waktu menyusut oleh pengaruh gaya berat, dibentuknya matahari dan
planet-planet. Penyusutan ini menyebabkan naiknya suhu matahari, sehingga
diciptakannya suatu rangkaian reaksi nuklir. Selanjutnya menurut teori ini,
jutaan tahun sejak sekarang, matahari akan membesar, “menghabiskan”
planet-planet dan akhirnya menjadi hitam dan dingin kembali.
Minggu, 02 Desember 2012
Ekam Sat
EKAÝ
SAD VIPRÀ BAHUDHÀ VADANTI
—Nd–' im]'
vä,mig{mahurqo idVy" s sup,oR gäTman( -
Ek' siÜp[a bhu/a
vdNTyig{' ym' matirëanmahu" --
Indraý mitraý varuóam
agnim àhur atho divyaá sa suparóo garutmàn,
Ekaý ûaî viprà
bahudhà vadantyagniý yamaý màtariúvànam àhuá.
(Ågveda: I.164.46)
Nama-Ku adalah Indra
(indram), Mitra (mitram), Varuóa (varuóam), Agni (agnim),
dan juga disebut (àhur atho), Cahaya (divyaá) dan juga (saá)
mempunyai sayap yang indah (suparóo), maka nama-Ku juga Garutmàt (Maha
Agung). Para sarjana (sadviprà) menyebut-Ku (vadanti) yang hanya
satu yaitu Aku (ekam) dengan nama-nama berbeda (bahudhà) demikian
juga disebut Agni, Yama dan Màtariúvan (cosmic breath/nafas
kosmik).
’Nama-Ku adalah Indra,
Mitra, Varuóa, Agni, cahaya dan mempunyai sayap yang sangat indah. Oleh
karena itu aku disebut Garutmàt. Demikian juga aku disebut sebagai Agni,
Yama, dan Màtariúvan. Aku hanya satu akan tetapi para sarjana
menyebutku dengan nama yang berbeda-beda’.
Mantra di atas
tersebut terdapat dalam Ågveda yang membicarakan nama-nama para dewa,
yang terdapat dalam empat Veda. Supaya seseorang tidak salah paham akan
keberadaan dewa-dewa, maka mantra tersebut menjelaskan bahwa semua nama dari
dewa adalah nama Tuhan yang hakikatnya adalah satu.
Masalah tentang
nama-nama dewa tersebut, juga dibahas dalam Veda yang lain seperti yang
terdapat dalam mantra - tad eva agnis tad àdityas tad vàyus tad u
candramàá, ... (Yajurveda: 32-1), yang berarti Tuhan adalah
satu yang disebut dengan nama-nama berbeda seperti Agni, Àditya, Vàyu,
dan Candrama.
Seperti dalam mantra:
"Tuhan adalah satu, tetapi disebut dengan banyak nama" - yo
devànàm nàmadhà eka eva... (Yajurveda-17 - 27). Diungkapkan
bahwa Tuhan adalah satu cahaya yang sinarnya terbias dalam bentuk yang berbeda,
jadi Tuhan adalah satu dan tidak ada yang kedua, ketiga, atau keempat (na
dvitìyo na tåtì yaú caturtho nàpy ucyate - Atharvaveda: 13-4-16).
Demikian juga
terdapat ..sa eûa eka ekavåd eka eva,.. (Atharvaveda-13-4-20)
bahwa Tuhan adalah satu dan tiada yang lainnya. Sarve asmin devà eka våto
bhavanti,.. (Atharvaveda: 13-4-21) berarti "seluruh
dewa menjadi satu dalam Tuhan".
Seperti diketahui
bahwa Tuhan mempunyai ribuan nama, tetapi bukan berarti Tuhan lebih dari satu.
Jelas, Tuhan hanya satu dan tidak ada yang kedua. Hanya para sarjana yang
menyebut nama-Nya secara berbeda sesuai dengan pengetahuannya. Kita tidak boleh
meributkan nama Tuhan, apakah nama Tuhan itu Viûóu, Agni, Úiva, Brahmà,
dan lain-lainnya. Orang-orang yang sering membeda-bedakan Tuhan karena namanya
saling bertengkar, berdebat, dan mempersoalkan nama-nama Tuhan.
Mantra tersebut
adalah jawabannya agar mereka sadar dan tidak ribut hanya karena nama berbeda
atau hanya karena salah satu nama yang lebih tinggi, lebih baik, atau lebih
lainnya. Di sini kita bisa melihat bahwa sebenarnya semua nama itu sama yaitu
Tuhan. Pada waktu kita menyebut nama Úiva, semua dewa akan termasuk di
dalamnya dan Úiva-lah yang mewakili dewa-dewa itu, demikian juga yang
lain.
Banyak di antara kita
bertengkar hanya karena perbedaan nama, tetapi kita tidak pernah melihat secara
mendalam, seperti kita meributkan kulit kelapa yaitu kulit luarnya, tetapi kita
tidak pernah merasakan kenikmatan isi di dalamnya. Untuk itu, dalam mantra
tersebut dijelaskan agar manusia tidak salah paham atas nama-nama yang berbeda,
karena semua nama tersebut adalah nama Tuhan sendiri. Kapan kita bisa memahami
nama-nama Tuhan yang hakikatnya hanya satu, maka pada waktu itu baru kita akan
menikmati kesempurnaan, keagungan, dan kebesaran-Nya.
Fungsi Gàyatrì
Mantra begitu penting. Oleh karena itu, kita perlu berjapa setiap hari jika
ingin hidup bahagia di dunia, dan mendapatkan mokûa.
Lahirnya Bumi - Pustaka Ilmu Pengetahuan
Sesudah dibentuk dari awan gas dan
debu kurang lebih 4500 juta tahun yang lalu, bayi Bumi memulai sejarahnya yang
mengagumkan.
Teori pasang-surut mengemukakan bahwa Bumi dibentuk
pada waktu sebuah bintang hampir bertabrakan dengan matahari, dan menarik
keluar dari permukaan matahari itu suatu gelombang gas yang amat besar. Gas ini
pecah menjadi bagian-bagian yang mendingin dan memadat membentuk planet-planet.
Langganan:
Postingan (Atom)



