Kamis, 07 Juni 2012

Kasih Yang Sejati - Parama Prema

Paramà Premà (kasih yang sejati)

Hidup manusia tidak selamanya manis, enak dan menyenangkan, tetapi terkadang juga mengalami pasang surut laksana gelombang di tepi laut. Dalam pasang surut kehidupan, seseorang yang tidak memiliki pegangan hidup, pegangan spiritual, moral dan etika, ibarat sebuah perahu tanpa nahoda, akan selalu terombang-ambing, terhempas, dan mungkin terjerembab ke dasar lautan. 


Hidup dan kehidupan mestinya dinik-mati bagaikan seorang peselancar yang mahir, selalu tersenyum riang meniti gelombang, walaupun sekali waktu ia harus tergulung ombak yang besar karena tiupan angin yang kencang.
 
Menurut kitab úuci Bhagavadgìtà (XIII.9), setiap orang dibelenggu oleh enam hal, yakni: 
  1. janma-måtyu (kelahiran-kematian), 
  2. jara-vyàdhi (usia tua-penyakit), 
  3. duákha-doûa (duka-dosa). 
Belenggu tersebut mesti dialami oleh setiap orang, dalam kondisi yang berbeda-beda, seperti umurnya pendek, baru beberapa saat setelah lahir kemudian meninggal atau ada yang memiliki umur panjang, dengan berbagai pengalaman suka dan duka dalam meniti kehidupan. Setiap orang tidak dapat melepaskan diri dari ketuaan, penyakit, penderitaan dan doûa. Bila kita kaji lebih jauh, frekwensi antara suka dan duka, nampaknya kesukaan atau kegembiraan hidup, pada umumnya lebih banyak dinikmati oleh umat manusia. 

Penderitaan tidak dapat dihindari. Penderitaan atau kedukaan mesti dihadapi. Bagi seseorang yang telah memiliki kebijaksanaan, keluhuran budi atau intelek, maka penderitaan dipandang sebagai awan-awan di langit yang pada saatnya akan lenyap dalam berbagai bentuk, ada yang langsung menjadi hujan ada juga yang menjauh, tidak menutupi langit di atas kepala kita. Badai pasti berlalu, demikian keyakinan yang perlu ditumbuhkan. Untuk mengatasi badai tidak ada jalan lain kecuali mencari perlindungan dan perlindungan yang sejati, tidak ada lain kecuali datang dari pada-Nya.

Ajaran úuci diturunkan oleh Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa kemudian dirumuskan menjadi ajaran agama merupakan pegangan hidup dan kehi-dupan umat manusia. Seseorang yang memiliki pegangan yang jelas tidak akan khawatir dalam meniti kehidupan. Ajaran agama membimbing manusia bagaimana seharusnya hidup, bagaimana meniti hidup, apa tujuan hidup kita, bagaimana merealisasikannya dan berbagai bimbingan yang mengarahkan umat manusia menuju kesempumaan hidup.

Dalam kehidupan ini, banyak hal yang dapat menjerumuskan diri manusia menuju jurang kehan-curan. Di antara banyak hal yang menjerumuskan diri manusia, kitab úuci Bhagavadgìtà menyatakan adanya 3 sifat atau dorongan, yaitu 1. nafsu (Kàma), 2. emosi (Krodha) dan 3. ambisi (Lobha) yang digambarkan sebagai tiga pintu gerbang menuju neraka:

i]iv/' nrkSyed' Üar' naxnmaTmn" - 
kam" ¹o/Stqa lo.StSmadetT]y' Tyjet( --


tri-vidhaý narakasyedaý dvàraý nàúanam àtmanaá, 
kàmaá krodhas tathà lobhas tasmàd etat trayaý tyajet. 
Bhagavadgìtà XVI.21. 

Inilah tiga pintu gerbang menuju neraka, jalan menuju jurang kehancuran diri, yaitu: nafsu (Kàma), amarah (Krodha) dan ambisi/serakah (Lobha), setiap orang harus meninggalkan sifat ini.


Tiga sifat buruk tersebut di atas bila bergabung dengan Ûað Ripu (enam musuh dalam diri manusia), Sapta Timira (tujuh kemabukan duniawi) dan lain-lain, jelas akan menjerumuskan hidup dan kehidupan umat manusia. Selanjutnya bila kita mengkaji tujuan dan missi hidup manusia di dunia ini tidak lain adalah untuk mewujudkan kesejahtraan dan kebahagiaan lahir dan bathin, dengan missi selalu berusaha dan terus-menerus memperbaiki dirinya sendiri.

Membicarakan umat manusia, maka dalam ajaran Hindu dinyatakan bahwa pada diri setiap mahluk terdapat jiwa yang tidak lain merupakan perwujudan atau ekspresi dari Àtman, percikan dan bagian dari sinar úuci-Nya. Sesuai dengan sifat Àtman, maka sesungguhnya hati nurani umat manusia selalu úuci, seperti halnya sifat-sifat Paramàtman, Tuhan Yang Maha Esa, jiwa dari seluruh alam semesta. Bila pada diri setiap umat manusia terdapat Àtman yang luhur sifatnya, maka seseorang hendaknya mampu mengekspresikan sifat-sifat luhur dari diri umat manusia. 

Manusia sesuai dengan arti katanya berasal dari Manu, kemudian beru-bah menjadi manuûya (yang berarti yang memiliki akal-pikiran/mind), dengan demikian sesungguhnya Àtman memancarkan budi pekerti yang luhur, memiliki sifat yang arif dan bijaksana yang dalam bahasa Sanskerta, status manuûya ditingkatkan menjadi Màdhava-Màdhava (dari kata madhu, yang berarti yang memiliki kemanisan hidup dan sifat lemah lembut, kasih kepada-Nya dan segala ciptaan-Nya.

Sebagai telah dipahami, bahwa Bhakti Màrga adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jalan ini disebut jalan yang paling mudah, sederhana dan tidak memerlukan biaya yang banyak, dan hampir seluruh umat Hindu menempuh jalan Bhakti ini. Dari ajaran Bhakti inilah muncul seni pengarcaan (membuat arca, sebagai sarana memuja keagungan-Nya, membuat bangunan úuci yang indah dan sebagainya). Selanjutnya hidup tanpa seni, maka hidup seakan-akan kering tidak bermakna, oleh karena terdapat unsur seni dalam ajaran agama Hindu, maka unsur keindahan, selalu ditonjolkan.

Pokok-pokok ajaran tentang Bhakti Màrga dapat kita jumpai dalam kitab úuci Veda, menunjukkan bahwa sejak Veda diturunkan dan diterima oleh para åûi (åûi agung atau mahàrûi) mengembangkan unsur Bhakti dalam dirinya. Berikut ini kami kutipkan mantram-mantram Veda yang mengajarkan ajaran Bhakti Màrga, sebagai berikut:

¥ .U.uRv" Sv" tTsivtuvRre<ym( - 
.goR devSy /¢mih i/yo yo n" p[codyat( --

oý bhùr bhuvaá svaá 
tat savitur vareóyam,  
bhargo devasya dhìmahi 
dhiyo yo naá pracodayàt.  
Yajurveda XXXVI.3. 
Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, sumber segala yang ada, luhur dan maha mulia, pencipta alam semesta. Kami memuja kemaha muliaan-Mu, anugrahkanlah kecerdasan dan budi pekerti yang luhur kepada kami.


Mengapa mantram yang sangat terkenal yang disebut Vedamàtà (ibu dari semua mantram Veda) ini memohon kecerdasan intelek dan keluhuran budi, alasan yang dapat diajukan tidak lain dengan berbekal kecerdasan intelek dan keluhuran budi itu, seseorang memiliki Viveka-jñàna, yakni kemampuan untuk membedakan yang baik dan buruk, yang benar dan salah. Selanjutnya setelah mengetahui, dan memahami hal tersebut, sinar budi nurani umat manusia, mendorong supaya setiap orang melakukan kebaikan dan kebajikan. Perhatikanlah mantram selanjutnya:


.d–' k,eRi." x*,uyam deva .d–' pXyema=i.yRj]a" - 
iSqrWr½WStuìuv'sStnui.VyRxem deviht' ydayu" --

bhadraý karóebhiá úåóuyàma devà 
bhadraý paúyemàkûabhir yajatràá, 
sthirair aògais tuûþuvaýsas tanubhir 
vyaúema devahitaý yad àyuá. 
Ågveda 1.89.8, Yajurveda XXV.21. 
Ya Tuhan Yang Maha Esa, anugrahkanlah kepada kami untuk mendengar hal-hal yang baik, dan, Ya Tuhan Yang Maha Suci, kami dapat melihat hal-hal yang baik, dan semogalah kami dapat mempersembahkan bhakti kami dengan kekuatan tangan dan keteguhan badan kami, dapat menikmati kebahagiaan sejati sesuai dengan hukum kemahakuasaan-Mu.


puäz Eved' sv| yÙUt' yCc .aVym( - 
£tam*tTvSyexa no ydÞenait rohit --

puruûa evedaý sarvaý yad bhùtaý yacca bhàvyam, 
utàmåtatvasyeúà no yad annenàti rohati.  
Ågveda X.90.2.
Tuhan Yang Maha Esa adalah asal dari segala yang ada dan yang akan ada. Ia adalah raja dan penguasa alam yang kekal abadi dan dunia fana ini tempat tumbuhnya makanan.


¡xa vaSyimd' sv| yiTk' c jgTya' jgt( - 
ten Tyµwn .uiÇqa ma g*/" kSy iSv×nm( --

ìúà vàsyam idaý sarvaý  
yat kiý ca jagatyàý jagat
tena tyaktena bhuñjithà 
mà gådhaá kasya svid dhanam.
Yajurveda XL.l.
Hendaknya dipahami bahwa segalanya diresapi oleh Tuhan Yang Maha Esa, segala yang bergerak dan yang tidak bergerak di alam semesta. Hendaknya orang tidak terikat dengan berbagai kenikmatan dan tidak rakus serta mengingini milik orang lain.


Dari beberapa mantram Veda yang mengajarkan bhakti ini, Mahàrûi Nàrada dalam kitabnya Nàrada Bhakti Sutra (1.2) merumuskan bahwa bhakti itu sesungguhnya Paramà Premà atau Paramà Premàrùpa, cinta kasih yang sejati, yang tertinggi. Kasih yang sejati digambarkan sebagai kasih dari seorang bapak, sanak saudara, sahabat, dan di dalam Gurupùjà, Tuhan Yang Maha Esa tidak saja digambarkan sebagai seorang ibu dan bapak, tetapi juga sebagai keluarga dan sahabat, pemberi pengetahuan dan kekayaan. Perhatikanlah mantram-mantram berikut:


AiGn' mNye iptrmiGnmaipiGn' .[atr' sdim s%aym( - 
AGnern¢k' b*ht" spy| idiv xu¹' yjt' sUyRSy -- 

agniý manye pitaram agnim àpim  
agniý bhràtaraý sadami sakhàyam, 
agner anìkaý båhataá saparyaý 
divi úukraý yajataý sùryasya.
Ågveda X.7.3. 
Tuhan Yang Maha Esa yang kami yakini sebagai bapak kami, sanak kerabat dan saudara kami, kami puja Engkau sebagai yang memiliki wajah yang agung, sinar úuci Sùrya di langit.



Tvmev mat c ipta Tvmev Tvmev bN/ué s%a Tvmev - 
Tvmev ivÛa d–iv,' Tvmev Tvmev sv| mm devdev --

tvam eva màta ca pità tvam eva  
tvam eva bandhuú ca sakhà tvam eva, 
tvam eva vidyà dravióaý tvam eva 
tvam eva sarvaý mama deva-deva. 
Guru Stotra 14.
Tuhan Yang Maha Esa sesungguhnya adalah ibu kami, bapak kami, sahabat kami dan keluarga kami. Tuhan Yang Maha Esa sesungguhnya pemberi pengetahuan, dan Engkau penganugrah kekayaan. Engkau adalah segalanya, Ya Engkau adalah dewata tertinggi dari seluruh dewata.

 
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka pengertian bhakti seperti nampaknya dekat dengan yajña, yakni pengorbanan yang tulus dengan landasan kesucian hati dan berseminya kasih sayang. Selanjutnya dalam kitab Úabdakalpadruma III.463b, kata Bhakti dinyatakan sebagai vibhàga (pembagian atau pemisahan, memisahkan penyembah dan yang disembah), sevà (pemujaan atau pelayanan). 

Selanjutnya para ahli Sanskerta, menyatakan bahwa kata bhakti berasal dari akar kata bhaj yang berarti memuja, cinta kasih yang sejati kepada-Nya dengan penuh perasaan dan ketulusan. Di dalam Brahmà Sùtra atau Vedànta Sùtra, pengertian tentang bhakti diungkapkan dalam kalimat Sùtra berikut: athàto bhakti jijñàsa, sekarang diuraikan makna bhakti, sàparànuraktìúvare, cinta kasih yang sejati kepada Tuhan Yang Maha Esa dari seseorang dengan sepenuh hati. Jadi pengertian tentang bhakti ini sejalan dengan makna kata paramà premà, kasih yang tinggi dan sejati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar